Kasus Korupsi Proyek Gedung Unri, Jaksa Tahan Oknum Dosen dan Konsultan Perencana

Maret 29, 2019 by Ahmad
Share

PEKANBARU – Oknum Dosen Unri Zulfikar Djauhari dan seorang konsultan perencana proyek pembangunan gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Riau (Unri), Benny Johan akhirnya ditahan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru, di Rutan Sialang Bungkuk setelah berkas P21, Jumat (29/3/2019).

 

Dalam proyek tersebut, Zulfikar yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) bergelar doktor bertindak selaku Ketua Tim Teknis pembangunan proyek yang dilakukan pada 2012. Sementara Benny adalah Direktur CV Reka Cipta Konsultan. kedua tersangka ditahan setelah diserahkan penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Pekanbaru ke JPU.

 

Kedua tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 3 Undang-undang (UU) Nomor 30 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tidak pidana korupsi, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

 

“Berkas tersangka sudah lengkap (P21). Dilanjutkan penyerahan tahap II (tersangka dan barang bukti) ke jaksa penuntut,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Pekanbaru

.

 

Ia menyebutkan kedua tersangka ditahan di Rutan Klas IIB, Sialang Bungkuk, Kecamatan Tenayan Raya sebagai titipan jaksa. Penahanan akan dilakukan selama 20 hari ke depan.

 

“Ditahan 20 hari, terhitung hari ini,” sebut Yuriza.

 

Dalam perkara ini, penyidik juga menetapkan seorang tersangka lain, yakni Ekki Ganafi, seorang ASN yang merupakan anggota Kelompok Kerja (Pokja) dalam proyek pembangunan gedung Fisipol Unri.

 

“Untuk berkas tersangka (Ekki Ganafi) belum lengkap. Berkasnya kami kembalikan ke penyidik karena ada petunjuk Jaksa yang belum dipenuhi,” tutup Yuriza.

 

Untuk diketahui sebelumnya, dalam perkara ini juga telah menjerat eks Pembantu Dekan II Fisipol Unri, Heri Suryadi dan rekanan proyek, Siswandi. Heri dan Suwandi telah dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru dengan hukuman masing-masing 2 tahun dan 3 tahun penjara.

 

Selain penjara, keduanya juga dihukum membayar denda masing-masing Rp50 juta atau subsider 3 bulan penjara. Hanya saja, Ruswandi yang merupakan PT Waskita Karya (WK) selaku Komisaris PT Usaha Kita Abadi yang mengerjakan proyek dihukum membayar kerugian negara Rp940.245.271,82 atau penjara selama 6 bulan.

 

Penyimpangan pada proyek pembangunan gedung Fisipol Unri terjadi pada 2012 lalu dan gagal hingga dua kali. Akibatnya, panitia lelang melakukan penunjukkan langsung untuk menentukan pelaksana kegiatan.

 

Sesuai aturan, proyek hanya boleh dikerjakan oleh peserta lelang yang telah mendaftar karena dalam pendaftaran, peserta pastinya membuat surat keterangan penyanggupan. Namun oleh panitia lelang dipilihlah rekanan yang tidak sama sekali mendaftar.

 

Bahkan, proses penunjukkan tersebut dilakukan oleh panitia lelang bersama ketua tim teknis kegiatan. Kontrak kerja ditandatangani oleh direktur rekanan yang diduga dipalsukan di depan panitia lelang.

 

Dalam pengerjaannya, pada akhir Desember 2012 pekerjaan hanya selesai 60 persen tapi anggaran tetap dicairkan 100 persen. Jaksa menduga, ada kongkalikong antara tim teknis yang menyatakan kalau pengerjaan sudah 100 persen.

 

Meskipun bermasalah, perusahaan rekanan tidak diblacklist oleh panitia dan juga tidak dikenakan denda. Menurut aturan, besaran denda adalah 5 persen dari total anggaran yang diyakini sebesar Rp 9 miliar yang bersumber dari APBN Perubahan tahun 2012.

 

Hingga akhirnya, berdasarkan audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Riau, uang tersebut tidak dapat di pertanggung jawabkan terdakwa.Dimana tindakan itu mengakibatkan kerugian negara hingga Rp940.245.271,82.

 

Sumber:http://goriau.com

 

Komentar